Selesai

Selesai

Selesai. Bisakah kalimat itu benar-benar dilakukan? Aku sudah lelah. Kamu tahu? Aku selalu saja memikirkan keadaanmu yang sering kali membuat orang lain khawatir. Kamu tahu? Aku selalu mengoceh ria agar kamu tidak kenapa-kenapa. Walau aku hanya mengungkapkannya lewat pesan. Kamu tahu? Aku lelah. Sangat lelah. Benar-benar lelah. Sudah berapa kali aku mengucap kata lelah? Itu tidak seberapa. Kamu tahu? Tiap kali aku melihat kamu menderita karena orang lain, aku tersesak dan juga terisak. Kamu tahu? Apa yang kamu lakukan kepadaku,…

Read More Read More

Ayah

Ayah

Berkali-kali aku menuliskan kata pembuka. Tapi tidak ada satu pun yang pantas dibaca. Untuk dirimu yang kupuja. Meskipun baru beberapa hari ini, karena ke gilaanku terhadap laki-laki. Laki-laki yang tidak jelas tentunya. Iya. Aku sangat memuja mu. Walaupun terkadang cacian mu membuatku membisu, tapi itu tidak meluluhkan rasa sayangku padamu. Hanya lewat ini aku bisa berkata. Ayah, Sudah lama aku tidak membuatmu bangga. Sudah lama aku tidak menggucapkan sayang. Sudah lama, aku tidak meneteskan air mata untuk pria yang selalu…

Read More Read More

Sesal

Sesal

“Jelek” “Ga bagus” “Alay” Sakit hati. Iya. Aku tahu. Aku tahu kalian pasti akan tersakiti, karena mulut ini berucap itu sekian kali. Bahkan tidak terdapat kata pengantar atau permisi. Perihal tersakitinya kalian, aku minta maaf. Terlalu pecundang dengan tulisan. Tapi, hanya itu yang dapat aku lakukan untuk menebuskan kesalahan. Karena indra ini tak sanggup untuk mengucapkan kalimat penyesalan. -f a t h i a

Benci

Benci

Secara tiba-tiba, kutemukan tulisan. Sangat panjang. Menceritakan kesedihan. Tadinya aku menanggapi itu. Merasa iba, kasihan, dan mencoba merangkul dari kejauhan. Tapi, apa yang aku dapatkan? Ketika aku mencoba menceritakan permasalahan. Dia pergi dengan perlahan. Menghilang begitu saja, setelah apa yang aku ceritakan. “Begitu kamu menanggapi orang yang tak lagi menjadi milikmu?” Tanyaku penasaran. Karena diriku dilanda ketidakpastian. “Terserah kamu menganggapnya apa. Kamu dengan yang lain tidak tahu kebenerannya” Jawabnya. “Lalu, kenapa kamu tidak memberitahukan kebenarannya?” Ia tidak menjawab. Dari situ…

Read More Read More

Sakit

Sakit

Sudah lama rasa ini selalu aku pendam. Rasa rindu yang tak kunjung padam. Padahal, kita sudah tidak lagi menjalin hubungan. Benar-benar tidak ada ikatan. Namun, aku tetap saja bertahan. Perihal sikap dinginmu, aku masih saja memendam, walaupun hati seperti teriris benda tajam. Ingin sekali aku melepaskan. Membiarkan harapan meninggalkan diriku yang masih bertahan. Agar kelak, aku dapat menganggapmu biasa saja. Tanpa ada rasa. Sedikit pun, bahkan sebiji zara. Tapi, mengapa aku masih saja bingung. Antara bertahan atau meninggalkan? Karena pikiranku,…

Read More Read More

Aneh

Aneh

  Entahlah. Malam ini ada rasa tak karuan. Sampai-sampai ibu menepuk badanku untuk menanyakan keadaan. Apa memang wajahku terlihat muram? Sepertinya biasa saja. Tapi sepertinya tidak. Kepalaku terasa panas. Serasa sudah berjalan jauh di tanah yang tandus. Merasa lapar, lelah, dan haus. Belum lagi menapaki jalanan tanpa memakai alas kaki yang halus. Bingung. Hal kedua di pikiran. Bingung memikirkan apa. Bingung. Intinya bingung. Tapi aku bingung memikirkan apa yang membuat kebingungan ini melanda. Sungguh, rasanya ingin membendung air dan berendam…

Read More Read More

Lain

Lain

Watak keras yang kau punya menuruni ke sifatku saat ini. Menjadikan kita sering kali beradu argumen yang dapat menyakitkan hati. Membuat saling adu persentasi dan di penghujung, kita saling tak mengasihi. Itu membuatku kesal sering kali. Aku tahu, itu semua bukan diri asli. Kau dihadapkan oleh kelainan yang kau tak sukai. Begitu pula denganku. Dan itu menyebabkan kita terlalu banyak sekali berkelahi. Kalau boleh jujur, alasan aku panjatkan sumpah, “aku sangat amat benci kau dan diri sendiri.” itu karena sebuah…

Read More Read More

Kode

Kode

Saat ini aku sedang tersenyum. Tidak simpul, tapi ada rasa terpukul. Sampai-sampai ada rasa nyeri di pinggul. Bingung, menanggapi hal ini karena berfikir seperti sedang memikul. Memikul beban yang kamu berikan. Beban pikiran, beban perasaan, dan beban berat badan. Aku tidak berbohong. Karena memang, jika ada sesuatu yang menghantam pikiranku, berat badan ku pula ikut terhantam. Lupakan tentang berat badan. Aku hanya ingin berbicara sebentar. Tidak lama, tapi mungkin dapat melebar. Kamu merasakan yang sama tidak denganku? Apa aku saja…

Read More Read More

Senja

Senja

Langit berubah warna dengan indahnya. Angin berdesir menerpa apa yang ada di hadapannya. Warna jingga mewarnai langit tanpa berkata. Menyesap indahnya senja, menutup mata sepenuhnya, merasakan desiran angin yang menelusup kesetiap sela dengan mudahnya dan pikirian melambung jauh dari logika. Kenyataan yang jauh dari pengharapan, pengharapan yang jauh dari ketidak pastian, dan terus begitu entah sampai kapan. Belum lagi tentang rasa. Ya, rasa. Yang tak dapat dilihat oleh mata. Tapi dapat dirasakan dengan indra perasa, namun bukan lidah tentunya. Mungkin…

Read More Read More

Pasti

Pasti

Bagaimana kabarmu? Kita dulu bukankah pernah bertemu? Walau aku tahu, kita tidak pernah benar-benar bertemu. Namun, apakah kamu tidak ingin menanyakan kabarku? Atau hanya sekedar mengucapkan “hai” pada hari yang kau tentu? Apa mungkin kamu ternyata menunggu hal yang sama denganku? Tapi sepertinya semua itu tidak akan terjadi. Karena kamu sudah senang bukan? Dan tidak membutuhkan aku lagi? Padahal dulu kamu berjanji, aku akan tetap menjadi aku nya kamu walaupun datang sang pengganti. Tetapi, saat aku pikir lagi, sepertinya itu…

Read More Read More