Lupa

Lupa

 

“Aku lebih memilihmu tersakiti sekarang.”

Aku terdiam. Mencerna kata-katamu yang sangat tidak aku inginkan.

“Aku tidak mau semuanya akan menjadi lebih rumit.”

Aku tetap dalam bungkam. Membiarkan dirimu mengucapkan apa saja yang ingin kau katakan.

“Aku ingin kita mengakhiri hubungan.”

Lagi-lagi aku terdiam. Namun dengan mata terpejam. Menahan air mata yang akan berjatuhan. Walau hati ini terus merutuki pernyataan yang sedari tadi kamu ucapkan.

“Tapi tenang saja, kamu masih tetap berada disana. Dihatiku yang paling dalam. Tersimpan di tempat yang aman. Tidak akan tergantikan.”

Kali ini, kalimat mu membuahkan hasil. Membuat senyum ku kembali tergambar.

Senyum itu terus menerus terpancar.

Satu bulan

Dua bulan

Tiga bulan

Perlahan kamu melupakan. Kalimat yang kamu katakan.

Empat bulan

Lima bulan

Enam bulan

Tujuh bulan

Hatiku masih saja bertahan. Pada dirimu, yang memberikan harapan.

Senyumku masih saja terlukiskan, walau terdapat rasa sakit yang tidak bisa ku gambarkan. Karena dirimu sudah melupakan, kalimat manis yang ‘dulu’ pernah kamu ungkapkan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *