Senja

Senja

Langit berubah warna dengan indahnya.
Angin berdesir menerpa apa yang ada di hadapannya.
Warna jingga mewarnai langit tanpa berkata.

Menyesap indahnya senja, menutup mata sepenuhnya, merasakan desiran angin yang menelusup kesetiap sela dengan mudahnya dan pikirian melambung jauh dari logika.

Kenyataan yang jauh dari pengharapan, pengharapan yang jauh dari ketidak pastian, dan terus begitu entah sampai kapan.

Belum lagi tentang rasa.

Ya, rasa. Yang tak dapat dilihat oleh mata. Tapi dapat dirasakan dengan indra perasa, namun bukan lidah tentunya. Mungkin salah satu indra setelah indra kelima. Sudahlah, itu urusan rasa. Kita tidak perlu memahaminya, cukup merasakannya.

Ah, ada apa denganku. Tidak jelas. Memikirkan hal yang tak pantas aku ulas. Membahas rasa? Bahkan rasa saja tidak pernah hadir disaat aku membutuhkan untuk melupakan dirinya. Dirinya yang sekarang telah hilang. Entahlah, hilang dari angan atau kenangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *