Kode

Kode

Saat ini aku sedang tersenyum. Tidak simpul, tapi ada rasa terpukul. Sampai-sampai ada rasa nyeri di pinggul. Bingung, menanggapi hal ini karena berfikir seperti sedang memikul.

Memikul beban yang kamu berikan. Beban pikiran, beban perasaan, dan beban berat badan. Aku tidak berbohong. Karena memang, jika ada sesuatu yang menghantam pikiranku, berat badan ku pula ikut terhantam.

Lupakan tentang berat badan.

Aku hanya ingin berbicara sebentar. Tidak lama, tapi mungkin dapat melebar.

Kamu merasakan yang sama tidak denganku? Apa aku saja yang merasakan berlebihan ya. Tapi aku rasa tidak.
Kita terlihat saling memberikan kode dalam setiap postan kita. Eh,bukan kita. Aku dan kamu.

Ketika aku dilema antara melanjutkan sesuatu pekerjaan atau tidak, kamu menyemangati ku. Namun tidak secara langsung. Hanya melewati kata-kata yang kamu tulis di akun sosial media mu.

Ketika aku sedang memberitahukan kepada yang lain tentang tulisan ku agar mereka membacanya, justru malah kamu yang menanggapinya, lalu mengikuti perintahku sebelumnya. Padahal aku tidak berfikir sejauh jerapah melangkah.

Lucu ya. Lucu tidak? Aku bilang sih lucu. Karena baru kali ini terjadi dalam hidupku dan itu terjadi bersamamu. Orang yang selalu aku tunggu dalam setiap waktu.

Maaf. Ada sesuatu yang aku lupakan. Aku tidak mau lagi mengharapkan orang yang tidak lagi mengharapkan aku. Karena aku tahu, Tuhan tidak mengabaikan doaku. Jika kamu akan menjadi milikku, meski ada seseoarang yang baru; kamu, aku dapat menjadi satu. Dan ada kata kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *